Sunday, 8 December 2013

KUTUKAN NILAI NOL

ilustrasi-dongeng-cerita-anak-bergambar

Cerita Anak

HAH?! Soalnya sebanyak ini? Mana sulit-sulit! Bowo membatin. Keringat dingin sudah sejak tadi mengucur di dahi Bowo. Telapak tangannya juga basah. Dia memutar-mutar pensilnya dengan gelisah. Saat itu ulangan matematika. Dari lima belas soal, rasanya tidak ada yang bisa Bowo kerjakan. Hati-hati Bowo melirik ke kanan dan kirinya. Teman-temannya tampak tenang mengerjakan soal-soal. Bikin Bowo makin gelisah.

Sebelumnya Bowo memang malas-malasan belajar. Menunggu sampai malam sebelum ulangan, Bowo baru membuka bukunya. Akibatnya semalaman Bowo menguras tenaga mempelajari buku matematikanya. Sampai-sampai dia ketiduran di meja belajar. Besoknya bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan. Yang terparah, Bowo tidak bisa mengingat semua rumus yang telah dipelajarinya.

Mana ngantuk! Bowo terus saja menggerutu dalam hati. Jantung Bowo berdetak dua kali lebih cepat waktu Bu Guru bilang, “Tinggal lima belas menit lagi.”

Dengan hati gundah Bowo mencoba menyelesaikan soal-soal itu.

“Kumpulkan!” kata Bu Guru lima belas menit kemudian. Bowo tersentak kaget. Dia baru menyelesaikan beberapa soal. Itu pun dikerjakan dengan tidak percaya dri. Sekarang Bowo cuma bisa pasrah menunggu hasilnya.

Waktu istirahat Bowo menggabungkan diri dengan teman-temannya yang lagi sibuk membahas ulangan matematika tadi. Semakin lama dia mendengarkan, semakin tak enak perasaannya. Rasa-rasanya jawaban Bowo salah semua.

“Nomor satu jawaban kalian berapa? Seratus tiga puluh?” tanya seorang anak.

“Iya, sama!” sahut yang lain bersemangat.

Bowo menginat-ingat jawabannya sendiri. Ng… jawabanku sepertinya bukan itu, batin Bowo getir.

Sampai pulang ke rumah pun Bowo masih kepikiran. Kalau Bowo dapat nilai nol bagaimana?

“Gimana ulangannya?” tanya mama Bowo, mengangetkan Bowo yang berjalan sambil melamun.

“Ng…beres,” jawab Bowo asal saja.

Waktu Bowo lagi duduk di dekat jendela kamar tidurnya, merenungi nasib ulangan matematikanya, tiba-tiba Mbak Tiwi mengejutkannya.

“Hayo!!! Lagi mikirin ulangannya yang salah semua, ya? Bilangin mama, lho!”

“Jangan! Lagian belum tentu dapat nol, kok!” kata Bowo gusar.

“Kata orang, nilai nol itu bisa memberi kutukan. Sekali dapat nol, selamanya dapat nol!” kata Mbak Tiwi menakuti-nakuti, lalu cekikikan. Malangnya Bowo tidak bisa berhenti memikirkan omongan Mbak Tiwi meskipun dia tahu itu tidak benar. Bowo jadi ketakutan. Mudah terkejut dan mimpi buruk. Setiap kali melihat benda yang berbentuk bulat, dia langsung terbayang nilai nol.

Nol! Nol! Nol! Kata itu berdengung terus di telinga Bowo.

“Aku nggak mau dikutuk dapat nilai nol terus,” ringis Bowo.

Nol Nol Nol…

Bowo jadi tidak bersemangat. Ke sekolah jadi lesu, takut Bu Guru membagikan hasil ulangan. Pulang ke rumah pun sama saja, takut dimarahi mama karena dapat nol. Kalau nilai nol benar-benar membawa kutukan dan selamanya Bowo mendapatkan nilai nol, bagaimana dia kelak bisa melanjutkan ke universitas? Perusahaan mana yang mau menerimanya bekerja? Orang-orang akan mulai menjauhinya karena kebodohannya, kemalasannya. Bowo akan sendirian, tidak punya teman, tidak punya pekerjaan, hanya nilai nol yang akan selalu menemaninya…

“AAAAAAH!!!” jerit Bowo. Dia terbangun dari tidurnya. “Uh, nyesel, deh, kenapa aku malas-malasan kemarin. Jadi ketakutan begini,” keluh Bowo. Dia lantas bersiap-siap berangkat ke sekolah. Hari itu Bu Guru akan membagikan hasil ulangan matematika. Hati Bowo jadi tak tenang.

“Gania,” Bu Guru memanggil satu persatu berdasarkan daftar absensi sambil menyerahkan kertas ulangan muridnya.

Aduh, sudah abjad G. Gimana kalau aku beneran dapat nol? Aku nggak mau dikutuk selamanya…

“Obiet!”

HAH?! Sudah ini namaku! Bowo makin gelisah. Saking cemasnya dia sampai menutup kedua matanya.

“Prabowo! Prabowo?”

Bowo merasakan seseorang menyikutnya. Dia membuka matanya dan tersadar kalau Bu Guru barusan memanggilnya. Kaki Bowo terasa loyo, kayak agar-agar. Bowo bangkit dari kursinya lalu berjalan ke depan kelas dengan jantung berdebar keras. Tangan Bowo gemetar ketika menerima kertas ulangannya.

“Aku belum siap. Nanti saja kulihat,” gumam Bowo, mendekap erat-erat kertas ulanganya ke dada. Teman sebangku Bowo heran melihat Bowo langsung menyimpan kertas ulangannya tanpa melihat hasilnya terlebih dahulu.

“Kamu dapat berapa, Bowo?” tanya Rangga. “Uh! Aku cuma dapat tujuh!”

HAH?! Nilai tujuh mengeluh begitu? Gimana aku? Pikir Bowo.

Sesampainya di rumah, setelah memastikan mamanya lagi sibuk, Bowo berlari ke samping rumah, lalu sembunyi-sembunyi memeriksa kertas ulangannya.

“Buka nggak, ya? Ah, buka sajalah! Mau gimana lagi?”

HAH?! HAH?! Mata Bowo terbelalak. Mulutnya menganga lebar. “Aku dapat empat! Hore! Nggak jadi kena kutuk! Horeeee!” Bowo melonjak kegirangan. Ternyata dia tidak dapat nilai nol, tetapi dapat nilai empat. “Horeee! Mama! Ulangan matematikaku dapat empat!”

“Dapat empat kok girang? Itu kan bukan nilai yang bagus!” omel mama. Bowo tidak peduli. Sekalipun dapat nilai satu, paling tidak bukan nol. Mbak Tiwi yang melihat tingkah pola adiknya geleng-geleng kepala.

“Syukurlah,” kata Bowo lega. “Kapok, deh, malas-malasan belajar.”

cerita & ilustrasi oleh Angewid
@ange_wid

Cerita ini pernah diposting di blogdongenganak

No comments:

Post a Comment