Saturday, 8 March 2014

SUKIYO & BALON UDARA

ilustrasi-fabel-dongeng-cerita-anak-bergambar



Fabel

SUKIYO adalah seekor anak itik. Tetapi jangan sangka kalau dia tidak punya cita-cita. Dia sama seperti anak-anak lainnya. Hanya cita-citanya saja yang berbeda. Sukiyo ingin sekali bisa terbang tinggi hingga ke langit. Sayangnya, sekeras apa pun usahanya, tetap saja dia tidak bisa terbang setinggi itu.



Kadang Sukiyo mengkhayal tiba-tiba dia dikaruniai sayap baru yang bisa membawanya melintasi angkasa. Tentu saja tidak segampang itu. Walaupun khayalan sangatlah indah, tetap saja hanya khayalan. Makanya Sukiyo sungguh-sungguh berusaha agar keinginannya terkabul.



Suatu pagi nan cerah, Sukiyo merasa yakin dia akan berhasil. Dia pun mencari pohon terbaik sebagai titik tolak. Rupanya diam-diam dua ekor itik lain sedang memperhatikannya.

“Lagi ngapain Sukiyo?” bisik Momot. Dia dan saudara kembarnya, Popot, sedang bersembunyi di sela rimbun ilalang.

“Sukiyo belajar terbang lagi!” sahut Popot.

“Tidak kapok-kapok dia,” kata Momot. Popot mengangguk sependapat.

“Godain, yuk!” ajak Momot jail.

“Ketahuan!!!” seru sebuah suara tiba-tiba. Momot dan Popot kaget setengah mati. Langsung saja keduanya berteriak-teriak, “Eh, copot! Eh, comot! Copot, eh, comot!”

Rupanya Sukiyo yang mengejutkan mereka. Sukiyo pun tertawa geli. Momot dan Popot jadi cemberut.

“Jangan mengejutkan kami begitu,” sungut Momot.

“Salah sendiri mengintip,” kata Sukiyo seraya menahan geli. Karena jengkel, Momot dan Popot pun pergi. Sekarang Sukiyo sudah bisa melakukan latihan terbangnya tanpa gangguan.

Dia merentangkan kedua sayapnya penuh percaya diri. Sedikit menjejakkan kakinya di atas dahan, lalu membiarkan tubuhnya terbang dibawa angin.

“Aku berhasil!” seru Sukiyo girang. Lalu tiba-tiba kakinya merasakan tanah. “Lho, kok sudah sampai bawah?” gumam Sukiyo dan menoleh untuk melihat dahan tempat dia tadi bertolak. “Ah, pantas saja. Dahannya terlalu rendah. Aku harus cari dahan yang lebih tinggi.”

Setelah menemukan dahan yang tepat, Sukiyo mengulangi lagi latihannya.

“Wah, indahnya pemandangan dilihat dari atas,” gumam Sukiyo kagum. Sekali lagi dia merentangkan sayapnya. Lalu tubuhnya pun membelah udara. “Aku terbang!” seru Sukiyo seraya mengepakkan sayapnya. Tetapi tiba-tiba dia merasa badannya bertambah berat. Apa perutnya kemasukan angin? Sukiyo menunduk. Ia menemukan kalau bumi di bawahnya terlihat makin dekat.

Ada apa, ya? Eh? Hah? HAH? Aku jatuuuuh!” jerit Sukiyo.

Syukurlah dia nyemplung ke sungai. Jadi Sukiyo baik-baik saja—kecuali hatinya. Ada sesuatu yang terasa tidak enak di sana. Apa itu gerangan? Oh, ternyata Sukiyo merasa sedih. Lagi-lagi usahanya tidak berhasil. Ia tidak tahu bagaimana lagi caranya agar bisa terbang tinggi. Karenanya Sukiyo membiarkan saja air sungai membawanya hanyut.

Di tengah jalan dia bertemu dengan seekor ikan yang tengah berenang berputar-putar. Sukiyo menghampirinya karena nampaknya ikan itu sedang butuh bantuan.

Ada yang bisa saya bantu, Pak Ikan?” tanya Sukiyo baik hati. Ternyata si ikan tersangkut di ranting pohon yang hanyut di sungai. Sukiyo membantu ikan tersebut membebaskan diri.

“Terima kasih, Nak Itik,” kata Pak Ikan.

“Kenapa Pak Ikan bisa sampai tersangkut di situ?”

“Tadi aku terlalu senang, akhirnya tidak mempehatikan sekeliling.”

Terlalu senang? Sementara aku terlalu sedih, pikir Sukiyo. Pak Ikan yang melihat wajah sedih Sukiyo, jadi penasaran.

“Kenapa kamu terlihat begitu sedih?”

Malu-malu Sukiyo pun menceritakan masalahnya. Pak Ikan mendengarkan dengan prihatin.

“Oh, kurasa aku bisa membantumu,” kata Pak Ikan. Mata Sukiyo langsung berbinar-binar. “Temui Pak Uhu si burung hantu. Dia tinggal di hilir sungai di atas pohon yang paling besar.”

Dengan harapan melambung tinggi Sukiyo segera mencari Pak Uhu. Seperti yang disarankan oleh Pak Ikan. Tidak perlu lama, Sukiyo dengan mudah bisa menemukannya.

Ada apa mencariku?” tanya Pak Uhu. Lalu Sukiyo menceritakan tentang masalahnya dan pertemuannya dengan Pak Ikan.

“Oh, hanya itu,” sahut Pak Uhu. Mendadak jantung Sukiyo berdegup kencang. Ia sangat senang. “Ingin operasi sayap atau minum pil berubah wujud?”

“Hah?!” seru Sukiyo terperangah.

“Iya, kalau ingin terbang, begitu caranya.”

Sukiyo sedikit tergoda. Namun dia juga merasa takut. “Apa tidak ada cara lain?”

“Kalau tidak mau pulang saja.”

Sukiyo merasa amat kecewa. Padahal sebelumnya dia berharap banyak. Dengan lesu Sukiyo pun melangkah pulang. Belum jauh tiba-tiba Pak Uhu memanggilnya.

“Begini saja, temuilah sahabatku, Pak Rudi si rusa. Dia tinggal di tepi hutan.”

Perasaan hati Sukiyo tidak lantas berubah. Dia tidak ingin berharap terlalu tinggi seperti sebelumnya. Lagipula apa yang bisa dilakukan Pak Rudi untuk membuatnya terbang? Rusa kan tidak bisa terbang. Kendatipun demikian Sukiyo mengikuti saran Pak Uhu.

Ketika berhasil menemui Pak Rudi, Sukiyo agak ragu mengutarakan maksud kedatangannya. Tetapi rupanya Pak Rudi sangat ramah dan baik hati.

“Jadi kamu ingin terbang lebih tinggi?” tanya Pak Rudi, setelah Sukiyo memberitahu alasan kedatangannya. “Kenapa kamu ingin terbang setinggi itu?”

“Aku ingin melihat dunia dari atas. Katanya, dari atas, bumi kelihatan menakjubkan.”

“Kalau itu masalahnya, barangkali aku bisa membantu.”

“Tapi aku tidak mau operasi sayap.”

“Tentu saja tidak. Ayo, ikut aku.”

Pak Rudi membawa Sukiyo ke tempat yang lebih lapang. Sejauh mata memandang hanya ada rumput dan tanaman-tanaman kecil. Eh, ada sesuatu di tengah padang rumput itu! Balon Udara! Sukiyo jadi bertanya-tanya dalam hati.

Pak Rudi tersenyum lebar. ”Ayo, ke sini.”

“Tapi aku ingin terbang betulan, bukannya naik balon udara,” kata Sukiyo.

“Sudah, naik saja,” kata Pak Rudi, meminta Sukiyo masuk ke dalam keranjang penumpang. Sukiyo menurut. Segera Pak Rudi menyalakan alat untuk memanaskan udara dalam balon.

“Siap membelah udara?” tanya Pak Rudi. Mau tak mau Sukiyo jadi bersemangat.

Perlahan-lahan balon udara mulai terangkat. Makin tinggi dan makin tinggi. Sukiyo bahkan bisa melihat puncak pohon. Dengan demikian terpanalah ia.

“Bagaimana?” tanya Pak Rudi si rusa.

“Menakjubkan!”

“Tidak harus punya sayap untuk  bisa melihat bumi dari atas,” kata Pak Rudi. Sukiyo tersenyum, sedikit malu. “Oh, ya, ada hal yang lebih menyenangkan lagi.”

“Apa itu?” tanya Sukiyo, jantungnya jadi berdebar-debar.

“Kita bisa mengajak teman naik balon udara. Apa kamu ingin mengajak seorang teman?”

Sukiyo langsung ingat Popot dan Momot. “Boleh aku mengajak dua orang teman?”

“Tentu saja. Ayo, kita jemput mereka.”

Mimpi Sukiyo untuk terbang akhirnya terkabul. Meskipun dengan cara yang berbeda. Ini tentu saja karena Sukiyo bekerja keras dan tidak gampang putus asa. Alangkah bahagianya hati Sukiyo. Terutama karena dia bisa membagi kebahagiaannya dengan teman-temannya.

by Angewid
@ange_wid

No comments:

Post a Comment